Satu kisah tentang takdir. Sungguh yang diciptakan Allah tidak ada yang salah baik yang tampak maupun yang tidak. Hmmmmm, ini dia salah satunya, mungkin saya beri nama pelakunya Kabayan saja agar tidak timbul syak wasangka tentang siapa orangnya. Kisah ini berawal dari sebuah daerah terpencil disalah satu wilayah Republik Indonesia, lahirlah seorang putra disebuah keluarga yang Amat Sangat Sederhana. Begitu sederhananya keluarga ini sehingga anak ini hampir setiap hari dalam hidupnya makan dengan sederhana, ya mungkin untuk manggambarkan kita anggap saja makan tempe terus tiap hari. Tapi syukur Alhamdulillah si anak punya tekad besar untuk mengangkat derajat keluarganya, kalau menggunakan pepatah Melayu, Ingin mengangkat batang terendam.
Dengan keras hati sang anak belajar dengan giat sampai tahun demi tahun akhirnya dapat lulus di salah satu Perguruan Tinggi Negeri ternama. Mulai menjajaki karir di salah satu instansi. Dan dengan pelan tapi pasti karirnya mulai menanjak. Kesibukan mulai bertambah dari mulai jamuan makan malam, perjalanan dinas keluar negeri dan seabreg aktfitas lainnya yang sudah menjadi tuntutan karir. Akhirnya tempe hampir menjadi kenangan. Semua makanan “enak” sudah hampir semua dicicipi dalam tiap jamuan makan, walau hanya sedikit sedikit, karena katanya begitulah cara makan orang penting, sedikit, teratur, berirama, kadang bercampur antara makan dengan obrolan basa basi seputar politik, ekonomi, sosial, budaya, Pertahanan dan Keamanan atau biasa kita singkat POLEKSOSBUDHANKAMNAS.
Hal ini dijalani lebih dari tiga kali puasa, tiga kali lebaran, bang tayib tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan akang kabayan yang satu ini. Hingga datangnya MPP (Masa Persiapan Pensiun) luar biasa, Di puncak Karir, dengan kelebihan materi, sepertinya seluruh kebahagiaan bisa dibeli saat ini. Tapi….., tunggu dulu bersamaan dengan itu datang sepucuk surat bersampul coklat , hasil dari Medical Check Up yang isinya sebait puisi tentang Kolestrol tinggi, Gejala Hipertensi, Asam Urat, kadar gula meningkat yang nantinya bisa ada resiko Asam Aurat. Berkatalah sang dokter kepada beliau sambil memberikan daftar pantangan makanan, Jaga Kondisi, tidak boleh minum kopi, tidak boleh makan daging, tidak boleh makan sea food, kurangi nasi dan yang manis manis, alhasil hanya boleh makan sayur bening, dan tempe lagi, tempe lagi. Ya begitulah waktu hidup kurang makan tempe setelah kelimpahan materi kembali ke tempe disaat hak cipta tempe sudah diambil orang negeri seberang.
Ya begitulah hidup , kita yang orang kebanyakan harus lebih bersyukur, masih bisa makan daging kambing walau mesti antri kupon, masih bisa minum kopinya orang Indonesia, masih bisa makan nasi kebuli disaat ada sedekahan di majlis taklim. Sedangkan akang Kabayan Tadi Uangnya hanya bisa dipakai membayar pajak kendaraan mewah, PBB tanah, Uang sekolah anak di sekolah berstandar Internasional, dan walau menggunakan bahasa asing dalam mendidik anaknya tapi makannya tempe dan sayur bening.
Tidak ada yang salah pada kisah ini, karena takdir yang ditentukan Allah tidak ada yang salah, hanya gambaran sederhana tentang syukur yang memang wajib kita lakukan tidak peduli Kaya atau Miskin, Jendral bintang tiga atau konsumen puyer bintang tujuh, Seorang WAKAPOLRI ataupun seorang WAKATIPDAL (Wakil Kepala Penitipan Sendal), Seorang pengajar yang bergelar SPD ataupun seorang tukang parkir yang bergelar CAPEDE. Semua sama, syukur itu harus, karena hidup ini adalah rizki terlepas dari susah atau senang, kalah atau menang, Kain atau Benang, Miing atau Unang.
Ya mudah mudahan kita dijadikan makhluk yang bersyukur dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, aamiin.