Ba’da ashar sama dengan “setelah ashar” sekedar untuk mengingatkan yang belum tahu arti kata ba’da, karena terus terang saya sendri juga baru tahu, he he……,Oke saya ulang lagi cerita ini silahkan ambil posisi yang nyaman, siapkan mungkin secangkir kopi karena tulisan ini agak panjang, dan jangan dibaca kalau sekiranya waktu tidak sempat atau mungkin memang dirasa tidak perlu…  Saya ulang lagi…. ba’da ashar disuatu senja di musim yang lalu,   … eit …maaf maksudnya ba’da ashar di sebuah mushola kecil dipinggiran  Jakarta, yang tadinya saya sendiri juga penuh dengan perjuangan antara menentukan ingin sholat, atau tidur atau numpang makan bakwan malang yg kebetulan juga mangkal di depan mushola itu. Akhirnya saya ambil keputusan untuk sholat daripada saya ambil alas kaki orang lain,  saya titipkan sandal yang bandrol harganya baru saya lepas 2 hari lalu pemberian istri tersayang, saya titipkan pada WAKATIPDAL (Wakil Kepala penitipan sandal), yang amat sumringah tersenyum ikhlas. Akhirnya sholat juga jadinya. Setelah selesai sholat seadanya akhirnya duduk di pinggiran teras mushola yang kebanyakan memang sudah banyak orang yg duduk lebih dulu mulai dari penjual minyak wangi dan  tasbih, kurir ekspedisi, collector   sampai supir taksi yang mungkin sedang sejenak melepas lelah atau memang ketiduran sambil HP nya di Silent atau sengaja dimatikan. Tidak sengaja berhadapan dengan seseorang yang sepertinya wajahnya sedikit… apa ya?”.. Ya kurang lebih sama seperti wajah saya waktu terima tagihan kartu kredit jatuh tempo pas tanggal tua. Ya begitulah kira kira.(maaf kalau kalau sama).  Eiiiit … jangan tertawa dulu saya akan masuk ke bagian seriusnya, sebentar saya teguk kopi saya dulu, aaah mantap,….. Begini kelanjutannya…. Dan ternyata!!…… orang ini menyapa saya dengan salam, saya jawab salamnya lalu dia tanya “Pulang kerja Mas?” saya perhatikan orang ini berwibawa sekali , jelas dari pakaiannya yang “putih hampir menyerupai baju muslim” seperti ustad ustad yang belakangan ini amat beken  di stasiun TV sampai stasiun kereta, dan dengan kopiah yang memang sepertinya digunakan sekaligus alas Helm karena agak sedikit lusuh atau istilah kerennya “lecek”.

“ Oh tidak pak kebetulan hari ini sedang off (sedikit beringgris ria ) biar nggak kalah sama CINTA LAURA,  Begicu…………, “ Kalau bapak darimana?’sapa saya, dia jawab “pulang ngajar”. Saya pikir  ustad pak” kata saya. “ Ya guru itu ustad mas, ustad itu guru, Podo Wae katanya. “ berarti UJE bisa jadi GUJE ” ucap saya sambil  sedikit mengajak bercanda, mudah mudahan mukanya pelan pelan hilang kusutnya. Eh Alhamdulillah dia balas bercanda lagi, ”walaupun sama tetap tidak ada ustad kencing berdiri  katanya, yang ada guru kencing berdiri”.  Akhirnya kita tertawa, dan terpotong ketika ada seseorang  menegur halus  kepada saya “maaf pak, sepatu saya”, katanya. Saya baru sadar sepatu itu orang saya injak “ saya bilang waduh maaf ya mas sepatunya saya injak, “ah biasa pak  sepatu kan memang untuk dinjak”, katanya. Luar biasa  ashar hari itu ternyata seperti ada dalam lingkungan opera van java, ha ha ha. “Bapak ngajar agama kayaknya” ucap saya kepada bapak tadi”, kok tahu?”, itu tasnya ada lambang DEPAG nya . “iya, kadang kadang juga ada panggilan ceramah, sedikit dakwah mas apalagi zaman sudah semakin tua katanya. “Dalam hati saya “waduh bakal panjang nih cerita”. Tapi nggak apalah. Akhirnya dia cerita panjang lebar dari mulai statusnya yang masih honor, seputar PILKADA DKI, isu SARA, SIRI sementara saya Cuma cerita seputar PIL KB dan PIL KOPLO. (Ehhhhhh ssst nanti aja senyumnya, baca, pahami dan centang like statusnya,ha ha)… Sampai akhirnya dia serius cerita seputar ceramah dan dakwah “Sekarang Dunia sudah terbalik mas, kalau ceramah paling dapatnya sekian (maaf di sensor) katanya, sementara artis yang nyanyi setengah telanjang bisa dapat berjuta – juta. Saya timpali  SUNGGUH TER… LA…LU, dia bilang ini serius mas itu kenyataannya. Ane Spontan jawab” apa sudah pernah ceramah sambil setengah telanjang pak?”. Bercanda si mas katanya?”. “ Nggak pak ini saya serius kalau targetnya uang maka itu jualan, dan kalau jualan maka secara teknis banyak caranya, tapi kalau target membuat orang hancur seperti saya menjadi lurus itu lain cerita, masa tugas mulia bapak mau disetarakan dengan Marilyn Monroe, atau lady Gaga.”biarlah Lady Gagap hanya disetarakan dengan azis gagap,  Jangan tersinggung lho pak?”. Iya sih katanya “ ya habis bagaimana?! contohnya kemarin, saya hanya dapat hanya cukup buat ongkos saja”, kata dia sedikit berapi api. Saya perhatikan ada kata “kemarin “ dalam ucapannya yang berarti bentuk lampau, yang kalau dalam Tenses bahasa Inggris  menggunakan kata kerja bentuk Ketiga yang sampai hari ini belum juga saya hafal semenjak dapat pelajaran ini pertama kali di SMP dari seorang guru bahasa inggris  cantik  dan terakhir bertemu dalam suatu reuni sekitar beberapa bulan lalu alhamdulillah guru saya itu masih terlihat cantik (mudah2an beliau selalu disehat panjang umurkan, dimudahkan  rizkinya, dikelilingi banyak kebaikan sepanjang hidupnya beserta keluarga, juga teriring doa yang sama untuk guru guru, dosen lainnya, dan untuk yang telah tiada mudah mudahan di terangi makamnya, diampuni dosa, diterima amal dan diindahkan dalam perjalanan berikutnya, aamiin).Tiba tiba saya  ingat apa yang saya dapat  semenjak saya “ikut ikutan” di majlis taklim belakangan ini. Bahwa barang siapa mengingkari takdir maka tiada Tuhan baginya,  begitu kata syaikh A qadir jaelani. Penggunaan kata “kemarin” dalam EYD atau setidaknya sesuai apa yang diajarkan bapak YUS BADUDU dulu dalam program bahasa Indonesia di TVRI jika dikaitkan dengan program Mimbar agama Islam TVRI sudah tercukupi unsur unsur  takdir nya (wah ngeri juga ini bahasa sudah pasti  copy paste dari bahasa para ahli hukum, luar biasa!!! makan apa saya tadi pagi bisa begini, he he)  Setelah menimbang, mencermati akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan kepada bapak tadi,  saya bilang “Takdir pak, yang sudah lampau kalau diingkari kata ustad sanusi bahaya!!. Kira kira betul nggak ustad? Kata saya. “Astaghfirullah” ternyata ini masalah saya. Katanya. Tidak ikhlas katanya lagi. Dalam hati saya “ ternyata sama masalahnya dengan saya” dan ternyata ROCKER juga manusia” setidaknya itulah kalau bisa digambarkan bisikan setan yg ada di benak pikiran saya.

“Sampean orang marketing ya mas ?”, “kenapa memangnya ustad?”,saya tanya balik.

“Ya tadi bicara target biasanya tukang jualan. “ Ya begitulah kira kira, saya ini Jual beli pak?”, “ Jual beli apa?”katanya, “Jual TV beli beras”, kata saya. Eeh dia jawab,”itu mah saya satu bulan yang lalu”, katanya sambil ketawa. Dalam hati “wah kayaknya sudah gembiraloka beliau,   “ Target aja pak dakwahnya! Kata saya. “ Lho kata sampean nggak boleh. “ Tergantung targetnya,  kalau artis yg setengah telanjang tadi kan targetnya uang, setelah terkumpul jadi kaya”, nah coba deh pak ustad  target bagaimana membuat artis yang setengah telanjang tadi berubah “menutup auratnya”, terus nikahin siri itu artis yang sudah kepalang kaya, ya begitudah kira kira”. Dia jawab “ sampean malah ngajarin saya nggak bener”. “lha saya kan memang orang nggak bener ustadz, ya tapi inget juga tadz, kadang kita bisa target tapi juga harus ridho kalau hasilnya terbalik, niatnya pengen kawin siri sama artis kaya yang insaf, eh dapetnya udah bukan artis, nggak kaya, nggak insaf insaf lagi. Ya kalau kata orang betawi dah “blangsak tambah blangsak”. Dia ketawa “ Gendeng sampean, katanya. Akhirya nggak terasa sudah mau maghrib, sekalian dah kami sholat maghrib. “ Sampean Imam Mas?! Katanya sambil berjalan ke tempat wudhu. Ane Bilang “ Bacaan saya amat sangat halus dan lembut Pak , jadi saya spesial Imam untuk zuhur dan ashar saja. “ Kalau untuk yang bacaan keras silahkan yang lain saja. Ha ha ha katanya. Ya Alhamdulillah si bapak ini sudah tertawa lepas, seorang guru Mulia yang mungkin terabaikan karena sistim pungli pengangkatan PNS atau “Kolusi orang dekat lebih dulu”. Ya Mudah mudahan Allah rubah nasibnya kearah yang lebih baik, biar sehat panjang umur  dia sekeluarga.Aamiin. Setelah Maghrib kami berpisah, saya ingat sekali dengan guru saya dulu, yang mungkin sampai saat ini belum sempat saya ucapkan terima kasih atas semua jasanya, akhirnya saya dekati dia ke parkiran motornya sambil saya “maaf” berbagi sedikit rezeki  yang mungkin hanya cukup untuk membelikan sebungkus martabak telor untuk anaknya di rumah “ Pak ini ada titipan cek plawat dari Miranda Gultom” kata saya bercanda sambil saya masukan kedalam kantongnya”. “ Dia jawab , “waduh….makasih nih  mas, saya hampir tiap ashar disini, insya Allah kapan waktu kita ketemu lagi, katanya. Ok Pak Ustadz saya jalan dulu, akhirnya kami berpisah bukan diteras sint carolus, setelah kami juga bercanda tawa bukan  di sebuah gereja Tuanya “ Panjaitan Bersaudara” tapi disebuah musholla kecil yang ramai sekali orang rela meluangkan waktu bersujud kepada zat yang tidak berbatas arah ruang dan waktu dengan sadar ditengah kesibukan dan permasalahannya. Ya Allah jadikan aku bagian dari mereka,jadikan aku makhluk yang sadar, ibadahkan aku, dengan segala kekuranganku, aamiin……….