“Selamat pagi pak”, “selamat pagi bu” ucap anak sekolah dengan sapaan palsu

Lalu merekapun belajar sejarah palsu, dari buku buku palsu.di akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu…

Karena tak cukup nilai maka berdatanganlah mereka ke rumah rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.

Sambil tersipu palsu, dan membuat tolakan tolakan palsu akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu, sambil berjanji palsu, untuk mengubah nilai nilai palsu dengan nilai nilai palsu yang baru.

 

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu

Merekapun lahir sebagai ekonom ekonom palsu, ahli hokum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu, sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu.

 

Dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.

Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu, dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu.

 

Dan bank bank palsu dengan giat menawarkan bonus dan hadiah hadiah palsu tapi diam diam juga meminjam pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank bank negeri yang dijaga pejabat pejabat palsu.

 

Masyarakatpun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu……..

Maka uang uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu.

Lalu orang orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan gagasan palsu ditengah tengah seminar dan dialog dialog palsu menyambut tibanya demokrasi palsu, yang berkibar kibar begitu nyaring dan PALSU.!!!!