Perlahan kupijakkan kaki diatas tanah merah yang berbalut lumpur yang terendam air kotor, perlahan sekali aku berjalan dIiringi lembutnya desir angin yang amat mesra berbisik dekat sekali dengan telinga, bisikkan itu amat merdu dan penuh nada namun indah mungkin bukan yang kurasa. Kuusahakan berjalan mendaki setapak demi setapak untuk  dapat jelas kulayangkan pandanganku ke bawah. Terlihat jelas jalan mana yang dulu membuat kutersesat sehingga makin kuat keinginan untuk dapat lagi mendaki lebih tinggi dengan harap akan ada keindahan sepanjang alurnya. Makin tinggi makin hening, makin terdiam sekeliling, namun sang angin makin mempelihatkan keberadaannya, makin kencang desirannya sehingga telinga harus kututup dengan telapak tangan. Dari tempat ini pula terlihat banyaknya yang terjatuh melayang kebawah, sesuatu yang juga bertangan dan berkaki , namun sepertinya setengah nyalinya sudah memudar. Setengah hatinya sudah bergetar karena tangan dan kakinya tak sanggup lagi mencengkram dengan kekar, sehingga jatuh menjadi wajar. Mereka lebih dulu sampai lalu terjatuh seperti anai anai. sampai akhirnya kusadari bahwa makin tinggi makin kuat angin menerpa, makin dingin cuaca mendera sehingga makin tertutup kedua telinga, sehingga kebenaran terdengar samar karena terkadang ditolak ke-aku-an nalar. Ya Robbi tuntun langkahku mendaki, lembutkan angin untukku, hangatkan sekujur tubuhku pegang erat genggamanku agar sang angin tau Engkau Tujuanku. Ya ilahi Selamatkan hatiku, agar kesombongan tidak melekat menjadi debu diatas tempat kubersujud, amin…..