Seakan berbisik sang angin ketika perlahan merambat masuk kedalam rongga yang dimana hati itu bersembunyi, bisiknya antara ada dan tiada dengan tutur yang tak berujar namun arti dapat didengar, “andai aku lupa akan tugasku betapa merananya kau manusia, tak akan mungkin kau bercengkrama, tak akan bisa kau bersuara, kau kan terdiam  tak kuasa untuk bertutur sekalipun itu adalah doa”.

 

Seakan berbisik juga sang air ketika perlahan mengalir kedalam raga, tuturnya mungkin agak sedikit jelas, “andai aku pergi  menguap karena sang mentari dan tak kembali lagi niscaya tak akan dapat kau lihat lagi rembulan dan kau akan mengering sekering keringnya lalu jatuh dan kembali keasalmu, atau tiba tiba aku menjadi besar menggulung, menerpa, lalu  menghempas tempat kau berpijak tentu kau jadikan air mata sebagai penggantiku”.

Jangan kau lupakan zat yang menciptakan kami, karena kau amat sangat tahu bahwa Dia juga menciptakanmu. Buang angkuh dan sombongmu sebelum tugas kami selesai terhadapmu.

 

Ya robb, kumohonkan ampunanMu karena keangkuhan yang pernah kepegang erat ditangan kananku dan kesombongan yang kusematkan ditiap ruas jari kiriku dan atas dosa yang telah kuperbuat yang mungkin lebih besar dari banyaknya air yang Kau ciptakan atau lebih kencang dari angin yang Kau hembuskan. Izinkan kuhirup udara ini dalam syukur dan taatku, izinkan kualirkan airMU dalam ragaku dan kukeluarkan bersama tangis dalam zikirku. Amin…….