Hai nek, engkau terduduk lemah diantara dua ruas jalan, ditengah hiruk pikuk manusia yang membawa kepentingannya masing masing. Engkau tengadahkan tanganmu kepada mereka yang mungkin hanya membalasnya dengan senyum. Rentanya engkau mungkin sama dengan kota ini, tapi megah dan daya tarikmu sudah pudar, seakan kota yang tak berlampu. Tapi kau setia dengan kota ini  karena hidupmu tidak punya pilihan.

Engkau juga amat dekat dengan beberapa gelintir orang berdasi yang sering masuk televisi yang katanya menyuarakan suaramu, ya hanya suaramu yang mereka suarakan, mereka meniru gayamu menengadahkan tangan kepada apa yg mereka namakan nama baik, kepentingan pribadi, dan ketamakan akan dunia. engkau nek selalu berdoa disetiap sujudmu agar Tuhan mencukupi kehidupanMU sehingga kau akan berhenti untuk meminta, Tapi mereka berdoa agar Tuhan tetap menjadikan mereka pengemis yang akan selalu meminta akan penghormatan, meminta dianggap menyuarakanmu, dan meminta agar selalu dapat tempat di gedung itu lagi hanya karena satu alasan sederhana  karena  masih banyaknya orang sepertimu nek di negeri ini yang kata mereka perlu diperbaiki nasibnya.

Sementara aku disini hanya bisa memberimu beberapa uang receh, yang mungkin hanya cukup untuk membeli segelas air mineral karena aku kadang juga terjebak akan ketamakan,…. engkau tetap tersenyum mungkin karena engkau hidup dikelilingi amat sangat banyak manusia yang berprilaku aneh, seperti aku, dan mereka yang ada di balik gedung itu, gedung yang dikelilingi kaca tapi tidak digunakan untuk bercermin……………..